Kesiapan Jalur Mudik Lebaran 2018

Friday, May 25th 2018. | Opini

marlinda darmaningtyas

Oleh: Darmaningtyas
Ketua INSTRAN (Institus Studi Transportasi) dan Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia)

ANES – Kementerian Perhubungan memperkirakan akan terjadi kenaikan arus mudik pada musim mudik Lebaran 2018 ini sebesar 10-15% dibandingkan mudik 2017. Adapun prediksi penggunaan masing-masing moda transportasi adalah sebagai berikut: Pemudik yang menggunakan moda darat mencapai 8,09 juta orang , yang menggunakan KA sebesar 4,63 juta orang, pengguna moda udara diperkirakan sebesar 5,75 juta orang, yang menggunakan transportasi laut sebesar 1,77 juta orang, sedangkan pemudik dengan menggunakan sepeda motor diperkirakan mencapai 6,39 juta orang, naik dari tahun 2017 yang mencapai 4,78 juta orang.

Perkiraan kenaikan jumlah pemudik tersebut mungkin tidak terlepas dari lamanya cuti bersama yang mencapai tujuh hari, atau total libur mencapai 10 hari, yaitu dari tanggal 11 hingga 20 Juni 2018. Cuti bersama itu sendiri berlangsung pada tanggal 11, 12, 13, 14, 18, 19 dan 20 Juni 2018, sedangkan Idul Fitri pada 15-16 Juni.

Namun, boleh jadi lonjakan arus mudik tidak terlalu tinggi seperti yang diperkirakan, karena kondisi ekonomi makro (nasional) maupun mikro (keluarga) yang kurang mendukung. Meskipun Lebaran tahun ini liburnya panjang, tapi bersamaan dengan masa pencarian sekolah atau kuliah baru, sehingga bagi keluarga yang ekonominya pas-pasan lebih baik mengalokasikan dana yang ada untuk mencari sekolah/bangku kuliah baru daripada untuk mudik.

Menghadapi kemungkinan terjadinya kenaikan arus mudik tersebut, yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah adalah menyiapkan infrastruktur dan sarana transportasinya. Oleh karena arus mudik terbesar berasal dari wilayah Jabodetabek menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra; maka fokus perhatian pemerintah di koridor tersebut. Terkait dengan kesiapan infrastrukturnya, keberadaan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra dijadikan sebagai jalur andalan arus mudik dari arah Jabodetabek menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Sedangkan sarananya, selain menambah armada, baik untuk darat, KA, kapal laut, maupun udara; pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengadakan mudik gratis untuk pengguna sepeda motor. Mudik gratis kali ini tidak hanya ke Jawa saja, tapi juga ke arah Lampung.

Titik Macet Baru

Bagi para pemudik dari arah Jabodetabek menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur titik macet akan bergeser ke Semarang. Pada arus mudik 2017 lalu, Tol Trans Jawa dari arah Jakarta-Semarang, yang operasional baru sampai Brebes Timur (Brexit), dan fungsionalnya sampai di Pemalang. Tapi, sekarang sampai Pemalang sudah operasional, sedangkan Pemalang-Semarang fungsional. Bedanya, mudik 2017 lalu fungsionalnya berdebu dan kecepatan maksimal 40 km/jam saja, sekarang fungsional tidak berdebu dan kecepatan dapat 60 km/jam, karena konstruksi jalan sudah jadi, hanya karena infrastruktur pendukungnya belum siap maka belum dapat dioperasionalkan. Jadi, meskipun sebagian masih fungsional, tapi arus mudik Jakarta – Semarang tahun ini akan melintasi jalan tol terus. Konsekuensinya, dibutuhkan rest area yang lebih banyak dan luas lagi agar pemudik tidak mendapatkan kesulitan untuk istirahat.

Terkait dengan pemungsian tol hingga Semarang, maka titik kemacetan akan bergeser ke Semarang karena terjadi titik temu kendaraan kendaraan yang melintas melalui jalan tol dengan kendaraan yang melintas melalui jalan arteri Pantai Utara Jawa (Pantura). Dibutuhkan rekayasa lalu lintas di titik temu tersebut agar tidak menimbulkan masalah yang lebih serius lagi.

Jalur Pantura disarankan perlu tetap dioptimalkan fungsinya, terutama untuk bus umum karena jalannya relatif baik dan kemungkinan agak lengang mengingat kendaraan pribadi akan banyak memilih lewat jalan tol. Pantura akan lebih banyak dilintasi oleh pemudik dengan menggunakan sepeda motor, sehingga perlu penjagaan ekstra ketat agar tidak terjadi kenaikan tingkat kecelakaan lalu lintas.

Dua Alternatif

Bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan dari Semarang menuju Jawa Timur sisi utara (Tuban, Bojonegoro, Lamongan dapat melintas melalui Pantura, sedangkan bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan menuju ke Madiun hingga Surabaya (Jawa Timur sisi tengah dan selatan), mereka mempunyai dua alternatif. Pertama, masuk Pintu Tol Semarang lalu keluar Pintu Tol Salatiga kemudian belok kanan masuk ke jalan nasional, melintasi Kota Salatiga hingga Boyolali lalu masuk Pintu Tol Colomadu (Kartasura) – melintasi tol fungsional Karanganyar – hingga Pintu Tol Ngawi. Dari Pintu Tol Ngawi lanjut ke Madiun maupun Wilangan, keluar interchange Nganjuk, kemudian melintas jalan nasional dan masuk ke Pintu Tol Kertosono langsung Surabaya.

Alternatif kedua: masuk Pintu Tol Semarang keluar Pintu Tol Salatiga lalu belok kanan masuk ke jalan nasional, melintasi Kota Salatiga hingga Boyolali lalu masuk Pintu Tol Colomadu (Kartasura) – kemudian masuk ke tol fungsional Karanganyar hingga Ngawi, kemudian masuk ke Pintu Tol Ngawi sampai dengan Wilangan, lanjut masuk ke tol fungsional Wilangan hingga Kertosono, lalu masuk ke Pintu Tol Kertosono hingga Surabaya.

Pemerintah berencana ingin memfungsikan ruas tol Salatiga-Kartusuro, sehingga jalurnya, setelah keluar Pintu Tol Salatiga, belok kiri langsung masuk ke tol fungsional Salatiga-Kartasura. Rencananya, tol (darurat) itu akan difungsikan satu arah, satu jalur, dua lajur dari barat (Salatiga) ke timur (Kartosuro) saat arus mudik, dan pada saat arus balik satu arah, satu jalur, dua lajur dari timur (Kartasura) ke barat (Salatiga), dari jam 06.00 sampai jam 17.00 WIB saja. Namun, menurut saya, setelah mengikuti pemantauan kesiapan infrastruktur mudik yang dilakukan oleh Puslitbang Jalan dan Perkeretaapian, Balitbang Kementerian Perhubungan awal Mei lalu, tol fungsional Salatiga-Kartosuro sebaiknya tidak dioperasikan dulu dengan alasan keselamatan. Sejumlah kendala yang ada di ruas tol ini antara lain:

Pertama, ruas Tol Salatiga-Kartasura ini masih banyak pekerjaan yang belum tuntas, terutama terkait dengan persimpangan sebidang dan jembatan. Jika dipaksakan berfungsi, maka Plan A yang dibuat oleh kontraktor adalah semua jembatan tersambung kecuali Kenteng. Sedangkan Plan B: tiga jembatan belum tersambung dan satu overpass belum selesai sehingga pemudik lewat bawah. Selain kurang nyaman bagi pemudik, bagi kontraktor juga inefisien.

Kedua, di perbatasan Boyolali-Kartasura ada satu ruas yang belum dapat dikerjakan karena masih konflik dengan warga. Pada desain awal, lokasi tersebut akan dibangun overpass tapi masyarakat menolak dan minta dibangun underpass. Ketika usulan warga akan dieksekusi, warga berbalik menolak underpass dan minta dibangun overpass. Penolakan warga tersebut diwujudkan dengan memasang spanduk yang bertuliskan “overpass harga mati”. Ruas ini melintasi jalan kabupaten (tepatnya jalan kampung). Jika tol fungsional diberlakukan, kendaraan yang lewat akan memotong jalan, sehingga butuh penjagaan petugas yang cukup banyak.

Ketiga, berdasarkan pengalaman mudik 2017, tol fungsional Bawen-Salatiga hanya dilintasi oleh kurang dari 1.000 mobil per hari. Rasanya terlalu sayang bila dana ratusan miliar hanya diperuntukkan memfasilitasi pergerakan 1.000 mobil sehari selama sepuluh hari saja. Jadi lebih baik diarahkan keluar Pintu Tol Salatiga lalu ikuti alternatif pertama tadi.

Khusus tol fungsional Kartasura hingga Ngawi jalannya sudah jadi, seperti halnya Pemalang-Semarang. Hanya saja karena infrastruktur pendukungnya (overpass dan underpass) belum selesai maka belum bisa dioperasionalkan, baru fungsional. Sedangkan ruas Tol Wilangan-Kartasura masih fungsional satu lajur. Pada ruas Tol Wilangan-Kartosono sebetulnya masih banyak kendala bila harus fungsional, mengingat sampai awal Mei masih ada tiga jembatan panjang belum tersambung karena terbentur oleh keterbatasan alat yang diperlukan. Hanya saja, tol ini akan difungsikan untuk mengurangi kemacetan di Mengkreng, yaitu pertemuan Jalan Raya Surabaya-Madiun dan Jalan Kertosono-Kediri dengan perlintasan KA yang sering menimbulkan bangkitan kemacetan hingga tiga kilometer.

Kemacetan Lokal

Belajar dari pengalaman Brexit 2016 yang menelan korban jiwa hingga 17 orang, maka yang perlu dilakukan oleh pemerintah pada mudik 2018 ini adalah memecah arus kendaraan agar tidak bertumpu di jalan tol saja. Keberadaan jalan Pantura perlu dioptimalkan untuk bus, mobil box, dan sepeda motor. Sedangkan kendaraan yang ke arah Purbolinggo, Purwokerto, Wonosobo, Kebumen, Magelang, Yogya, Wonogiri, Pacitan, dan sekitarnya dapat memilih jalur-jalur alternatif, misalnya keluar Pintu Tol Tegal, Pemalang, Batang, dan Weleri lalu ke kanan melalui jalan provinsi. Jalan-jalan tersebut meski tidak lebar, tapi cukup dilalui untuk kendaraan pribadi sejenis kijang dan jalannya relatif bagus.

Di Sumatra, titik kemacetan akan terjadi di exit tol yang terkoneksi dengan jalan lintas Sumatra, seperti di Lampung dan Sumatra Selatan, mengingat jalan di lintas Sumatra sempit dan tidak terlalu mantap. Oleh karena itu perlu ada rekayasa lalu lintas agar tidak menimbulkan persoalan baru. Kemacetan juga akan terjadi pada ruas yang menghubungkan antara Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan. Jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan Tarutung-Sipirok misalnya, merupakan jalur padat, tapi kondisi jalannya sempit dan amat buruk, serta kanan kirinya jurang, padahal jalan tersebut merupakan jalur utama yang dilalui oleh bus-bus dari Medan ke Jawa atau sebaliknya.

Yang tidak boleh diabaikan adalah kemacetan di tingkat lokal, terutama yang sering dilalui oleh para pemudik, sepertinya misalnya jalur Secang-Magelang. Jarak Secang ke Magelang hanya sembilan kilometer, tapi selama tiga kali musim mudik Lebaran sebelumnya, jarak tersebut memerlukan waktu tempuh sampai tiga jam. Ini jelas masalah besar. Dan, kasus-kasus seperti itu banyak terjadi di sejumlah wilayah, seperti misalnya jalur Kota Yogyakarta-Wonosari (Gunungkidul). Diperlukan kesigapan daerah untuk melakukan rekayasa lalu lintas agar kemacetan di tingkat lokal tidak menimbulkan frustrasi bagi para pemudik.

(mmu/detik.com)

tags: , ,

Related For Kesiapan Jalur Mudik Lebaran 2018